LUWU – Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) Tahun Anggaran 2025 di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mulai menuai sorotan. Proyek yang menelan anggaran lebih dari Rp8 miliar itu diduga tidak sepenuhnya dikerjakan sesuai item pekerjaan sebagaimana tercantum dalam kontrak, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kualitas hasil pekerjaan dan penggunaan anggaran negara.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh team kerja DPD LIPAN SUL – SEL program yang dikelola Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan tersebut mencakup pencetakan sawah seluas 243 hektare yang tersebar di sejumlah desa dan kecamatan di Kabupaten Luwu. Nilai anggaran program mencapai lebih dari Rp8 miliar dengan biaya sekitar Rp35 juta per hektare.
Pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh PT Bintang Silika Borneo. Namun, sejumlah petani di wilayah Pompengan Tengah dan Pompengan Pantai, Kecamatan Lamasi Timur, mengaku hasil pekerjaan yang telah dilaksanakan masih jauh dari kondisi ” cetak sawah siap tanam” yang menjadi selogan atau Program Andalan bapak menteri Pertanian Bapak H. Andi Amran Sulaiman,
Koordinator DPD LIPAN LUWU Ibu Kasih S.H saat melakukan investigasi dan mewawancarai Salah seorang anggota kelompok tani yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebutkan bahwa sekitar 134 hektare lahan yang telah dicetak masih membutuhkan perbaikan menyeluruh, terutama pada aspek perataan lahan, pembuatan pematang, hingga pengolahan tanah.
Menurut ketua DPD LIPAN SULAWESI SELATAN JUNAIDI LAYYU “ Kalau melihat kondisi di lapangan, lahan ini masih membutuhkan pekerjaan lanjutan agar benar-benar siap ditanami. Beberapa item pekerjaan yang tertuang dalam kontrak dinilai belum maksimal,” ujarnya.
Dalam dokumen kontrak disebutkan bahwa pekerjaan meliputi pembukaan lahan, perataan tanah, pembuatan pematang, serta pengolahan tanah hingga siap dimanfaatkan sebagai areal persawahan produktif.program pemerintah ini mengalokasikan anggarannyang luar biasa hanya sayang Pelaksana tak mengerjkan sesui konsep yang ada di kontrak. Yang mereka utamakan biaya pelaksaanaan yang anggaranya besar di lapangan yang tertuang dalam RAB mereka tidak mengoptimalkan Konsep dari cetak sawah itu sendiri ” Cetak sawah Siap Tanam.” Mungkin karena jiwa mereka adalah Pebisnis.
JUNAIDI juga menilai biaya pekerjaan yang terealisasi di lapangan diduga tidak sebanding dengan nilai anggaran yang dialokasikan. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan kelompok tani, biaya pekerjaan yang terlihat di lapangan diperkirakan berkisar antara Rp15 juta hingga Rp20 juta per hektare, berdasarkan info cetak sawah itu di kerjakan oleh Pihak ketiga
Jika asumsi tersebut benar, terdapat selisih anggaran yang cukup besar dibandingkan alokasi sebesar Rp. 35 juta per hektare. Bahkan, sejumlah pihak memperkirakan potensi selisih nilai pekerjaan pada lokasi tertentu dapat mencapai ratusan juta rupiah, sementara secara keseluruhan disebut-sebut mencapai miliaran rupiah. Namun demikian, angka tersebut masih memerlukan audit dan verifikasi resmi dari lembaga yang berwenang.
Sorotan juga diarahkan kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan pihak Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan. Menurut keterangan petani, pejabat terkait pernah melakukan kunjungan lapangan untuk meninjau kondisi pekerjaan. Tapi tidak tau apa hasilnya setelah kunjungan tersebut, sepertinya hanya sekedar berkunjung saja ke lapangan ujar salah satu tokoh masyarakat yang merasa kesal,
Meski demikian, hingga saat ini petani mengaku belum melihat adanya langkah konkret Niat Baik dari pihak konyraktor PT Bintang Slika Berneo untuk memastikan seluruh item pekerjaan diselesaikan sesuai isi kontrak
DPD LIPAN SUL SEL bersama Team, kepala Bidang PSP, serta PPK dan pihak terkait sudah pernah turun melihat kondisi lahan. Bahkan sudah dilakukan beberapa kali pertemuan tapi Pihak Kontraktor khusus di kab Luwu tidak ada perhatian sama sekali, bahkan mereka kaget ketika TIM LIPAN Indonesia menyampaikan bahwa pekerjaaan yang terabaikan hampir sekitar 134 Hektar, yang mana laporann dari pihak sub kontraktor hanya sisa 4 Hektar saja, kenapa kami dari LIPAN Indonesia Ngotot karena luas area yqng dilerja asal jadi sangatlah luas.ujar Urip kasih, SH.
Sementara itu, awak media telah berupaya meminta klarifikasi kepada pihak PT Bintang Silika Borneo Melalui sambungan telepon, perwakilan perusahaan mengakui masih terdapat pekerjaan yang perlu disempurnakan dan menyatakan komitmennya untuk melakukan perbaikan.
Pihak perusahaan menyebutkan bahwa rencana perbaikan telah disiapkan. Namun, menurut informasi yang diperoleh dari masyarakat setempat, hingga lebih dari dua bulan setelah pernyataan tersebut disampaikan, aktivitas perbaikan di lokasi belum terlihat secara signifikan. Padahal berdasarkan jadwal pelaksanaan, pekerjaan tersebut disebut akan berakhir pada Juli 2026.
Kondisi ini memunculkan desakan dari masyarakat dan petani agar LSM LIPAN Indonesia Melaporkan Kegiatan Proyek Ini ke Inspektorat Jendral Kementrian Pertanian RI agar segera melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap proyek tersebut. Menurut junaedi saat ini Kami Lipan Indonesia masih mau bertoleransi meminta instansi pengawas internal pertanian untuk bertindak, kalau kami sudah capek akan kami buatkan laporan pengaduan Ke KPK.
DPD LIPAN Sul Sel Inspektorat Jendral melakukan audit investigasi, secara menyuluruh pada.proyek cetak sawah di luwuk Raya dan berharap adanya penindakan pemeriksaan secara transparan apabila ditemukan indikasi penyimpangan dalam pelaksanaan program tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan maupun Pejabat Pembuat Komitmen terkait dugaan ketidak sesuaian pelaksanaan pekerjaan dengan kontrak.
( Junaidi )









